Aku terseok-seok, merangkak. Berusaha sekuat tenaga menarik
kakiku yang tak lagi berdaya hanya untuk menjauh dari tempat sial ini. Dingin yang
mencekam, kegelapan, jeritan reranting serta nyanyian malam yang serupa
tangisan wanita membuatku semakin kalut, aku ketakutan ! Kepalaku
berdenyut-denyut, mataku berkunang-kunang langit mendung seolah-olah ikut
berkabung.
Apa yang kualami dan kulihat tadi benar-benar membuatku, syok !
Darah berceceran. Wanita itu menjerit, menangis, memberontak. Ia mencoba bertahan tetapi kekuatannya tak sebanding dengan 3 lelaki kekar itu.Dengan sisa kekuatannya ia ambil botol dari keranjang jamunya lalu memukul kepala salah satu lelaki bejad itu, lelaki itu meringis menahan sakit, lelaki yang lain langsung menampar muka wanita itu, darah mengucur dari sudut bibirnya. Aku bergidik.
Darah berceceran. Wanita itu menjerit, menangis, memberontak. Ia mencoba bertahan tetapi kekuatannya tak sebanding dengan 3 lelaki kekar itu.Dengan sisa kekuatannya ia ambil botol dari keranjang jamunya lalu memukul kepala salah satu lelaki bejad itu, lelaki itu meringis menahan sakit, lelaki yang lain langsung menampar muka wanita itu, darah mengucur dari sudut bibirnya. Aku bergidik.
Terdengar robekan kain disusul jerit memilukan, aku tak ingin
tahu tapi aku tahu pagar ayunya telah direnggut para manusia bengis itu,
manusia yang telah diperbudak iblis ! Aku geram. Aku menangis, ya menangis
karena ketidakberdayaanku menolong wanita itu. Aku hanya bisa diam, diam begitu
lama dibalik ilalang yang kurasa ikut menangis menyaksikan tragedi itu. Wanita
itu mungkin telah dijemput “Izrail”.
Terdengar langkah kaki, semakin mendekat kearahku, bulu romaku
meremang, tanpa berpikir panjang aku berlari sekuat tenaga, yang kumaksudkan
berlari adalah merangkak secepat-cepatnya tak tentu arah, aku mendengar
gemericik air begitu dekat aku terkejut air itu membasahi mukaku.
Pelan-pelan mataku terbuka. Tubuhku lemah tak mampu
bergerak,suaraku tercekat di kerongkongan, kamarku serasa berputar-putar dan
berubah-ubah menjadi gudang kemudian sekolah lalu kamarku lagi,menjadi begitu
gelap kemudian terang. PLAK ! Tepukan keras dipahaku membuatku kaget, aku
tersentak bangun lalu duduk. Sial !
Kulirik jam, 06.34.
“Astaghfirullah”. . .aku mendesah, bahkan aku belum mandi ataupun sarapan.
“Astaghfirullah”. . .aku mendesah, bahkan aku belum mandi ataupun sarapan.
Bola mataku berputar, aku melihat Umi temanku, mengeringkan
rambutnya diatasku.
“Pantas saja”gumamku lemah dan kulihat Uci temanku satunya, dia sudah sibuk dengan kacanya.
“Pantas saja”gumamku lemah dan kulihat Uci temanku satunya, dia sudah sibuk dengan kacanya.
“Kenapa kalian tidak membangunkanku !”aku memprotes.
“Bahkan aku sudah bolak-balik dari kamar mandi hanya untuk membangunkanmu.”
Umi membela diri.
“Bahkan aku sudah bolak-balik dari kamar mandi hanya untuk membangunkanmu.”
Umi membela diri.
“Huh sudahlah !”sungutku kesal.
Aku langsung menyaut handuk dengan cepat dan langsung menuju
kamar mandi, karena tergesa-gesa aku terpeleset.
“Aaaaaa. . . !”suaraku yang melengking seperti “kucing terjepit”
julukan dari teman-temanku terdengar
sampai kamar membuat Umi dan Uci berlarian mendekat.
“Kenapa Erni ?”Tanya Uci dengan khawatir.
“Hehe, ng. . .nggak apa-apa kok.”kilahku sambil meringis
memegangi pinggangku yang serasa copot. Mereka saling tatap lalu
menggeleng-geleng, aku mengabaikannya.
“Ya sudah kami pergi dulu ya ?”pamit mereka serempak.
“Iya.”aku menjawab dengan tak bersemangat.
Selesai mandi aku bergegas mencari seragamku, mula-mula
dikamarku tapi tak ada. Lemari sudah aku obrak-abrik bahkan kardus tempat
menyimpan pakaian sehari-hari telah aku bongkar, tetap saja hasilnya nihil !
Aku baru teringat, tadi malam aku melemparkannya begitu saja disudut kamar Umi.
Aku bergegas kesana tapi pintunya dikunci, pasti dibawa yang empunya. Aku coba
mendobrak pintu itu, tak sedikitpun bergerak malah perutku yang berkerucuk. Aku
tersadar belum sarapan, aku terisak, menangis sejadi-jadinya.
Lamat-lamat kudengar suara orang mengetuk pintu, aku buka
ternyata kak Lina. Cepat-cepat kuhapus butiran disudut mataku, aku tidak mau
kalau sampai ketahuan menangis gara-gara seragam ! Memalukan !
“Kok belum berangkat ?”tanyanya.
“Nggak ada seragam kak, terkunci dikamar Umi.”
“Eh kakak masih ada kayaknya,”
“Benar kak ? pinjam !”
“Sebentar kakak ambil.”
Dengan seragam yang sedikit kedodoran dan sedikit kumal tentu
saja karena tidak sempat disetrika, aku bersiap-siap berangkat.
“Ya rabbku !”aku baru ingat aku belum mengganti buku pelajaranku
yang kemarin, cepat-cepat aku kembali kekamar dan dengan serampangan memasukkan buku pelajaran hari ini ke tas mungilku.
Aku keluar sekilas melihat jam, 07.21.
Jarak rumah kosku kesekolah hanya sekitar 50 meter. Kulihat Guruku mulai menutup gerbang pelan-pelan tapi bagiku sangat cepat, aku berlari sekencang-kencangnya berlomba dengan gerbang yang terus berjalan tapi teeettt ! Aku terlambat, gerbang tertutup penuh.
Jarak rumah kosku kesekolah hanya sekitar 50 meter. Kulihat Guruku mulai menutup gerbang pelan-pelan tapi bagiku sangat cepat, aku berlari sekencang-kencangnya berlomba dengan gerbang yang terus berjalan tapi teeettt ! Aku terlambat, gerbang tertutup penuh.
Guruku memandang sinis, menunjuk ke jamnya seakan menyindir
keterlambatanku, menohok hatiku. Gerbang itu berderit, aku melihatnya seakan
menyeringai padaku dan berkata “Hukuman bagi pemalas !”
Aku menatap nanar.

