Oleh : Erni mawarni
Reina Dermawan
atau biasa dipanggil Rei merupakan salah satu siswi kelas XI IPA I SMA BAKTI
LUHUR. Secara fisik dia emang jauh dari kata perfect, gimana enggak badanya
pendek, kurus juga kecil L seperti kurang
gizi saja ya ? Haha J itulah
kenyataannya, tapi wajahnya cukup manis dan imut selain itu dia juga lumayan
pintar => WAJAR DONG (y) MANUSIA KAN PUNYA KELEBIHAN DAN KEKURANGAN. Bisa di
bilang dia ini tipe cewek yang enggak terlalu memperhatikan penampilan di
sekolahnya dan juga tomboy, dia selalu memakai topi, lengan baju seragamnya di
lekuk, enggak pernah pakai kaos kaki dan gaya jalannya seperti cowok, ya ampun
:o ! Sudah berulangkali diperingatin bahkan enggak segan-segan tangan guru-guru
disekolah mencubitnya tapi apa mau dikata “bawak’an dari lahir” !
Tapi tunggu dulu, seorang
cewek senakal atau setomboy apapun itu hati nuraninya tetaplah cewek J
buktinya ? Siang itu Rei baru pulang sekolah, tanpa ngucapin salam dia terus
saja nyelonong masuk rumah dan langsung menuju kamarnya sambil menangis.
Reni Dermawan
kakak Rei yang super lembut dan penyabar
tapi tetap tegas itu bingung melihatnya, soalnya enggak biasanya dia nangis
gitu, Reni pun menyusulnya ke kamar lalu mendekati Rei yang sedang merebahkan
diri di tempat tidurnya.
“Kamu kenapa sayang, ada
masalah di sekolah ? cerita dong sama kakak.” Kata kakaknya sambil mengelus
rambut Rei.
“Gue boleh curhat sama lo
enggak kak ?”
“Tentu sayang.”
“Gini, tadi gue di ejek sama Galang Ervanda gara-gara gue enggak sengaja nabrak dia, dia bilang gue sengaja nabrak dia buat nyari perhatian dia dan nyuruh gue untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia itu karena dia sama sekali nggak tertarik sama cewek kayak gue kak.” L
“Tentu sayang.”
“Gini, tadi gue di ejek sama Galang Ervanda gara-gara gue enggak sengaja nabrak dia, dia bilang gue sengaja nabrak dia buat nyari perhatian dia dan nyuruh gue untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia itu karena dia sama sekali nggak tertarik sama cewek kayak gue kak.” L
“Terus ?”
“Ya jelas lah gue nggak terima dan marah-marah sama dia kak, gue bilang dia terlalu kepedean, eh dia langsung ngatain gue kalo gue itu harusnya menyadari kekurangan gue bukannnya malah sok jual mahal, gue enggak tahan terus lari kak.” (Sedih banget ya ?) ;(
“Oh begitu ? eh tapi bukannya kamu sudah biasa di ejek gitu sama teman-teman kamu, dan biasanya kamu nggak nangis malah cuek saja? “
“Iya sih kak. . .tapi ini beda.”
“Beda gimana maksud kamu ? “
“Gue kan. . .(Upsss hampir saja dia bilang kalau dia suka sama Galang).
Dalam hati Rei bergumam “tega banget sih Si Galang itu ngomong kayak gitu sama gue.” !
“Heh ! kenapa ? kok malah bengong, kamu sakit ? “
“Eh, emb. . .a, anu kak enggak jadi deh gue laper banget mau makan, gue ganti baju dulu ya ? “
“Dasar kamu ini Rei. . .Rei, yang ditanya ini jawabnya itu, ya sudah kakak keluar dulu mau nyiapin makanan untuk kamu.”
“Ok my sista !!! “
______________________________________________________________________________________
Paginya di gerbang sekolah Rei, segerombolan cewek-cewek lagi asyik bisik-bisik tetangga sambil nunjuk ke arah seorang cewek yang tampaknya baru tiba di sekolah. Siapa cewek itu ? Yah siapa lagi kalau bukan Reina Dermawan. Rei tahu betul kalau dirinya lah yang sedang menjadi bahan olokan gerombolan itu tapi dengan gayanya yang super cuek dia terus berjalan tanpa menoleh.
“Sudah biasa” pikirnya.
Perlu READERS tahu, di sekolah itu banyak sekali yang enggak suka bahkan syirik sama Rei dan rata-rata semuanya cewek tapi ada juga sih yang cowok. Contohnya saja nih yang namanya “Rika alputri” dia enggak suka sama Rei cuma gara-gara cowoknya Rika, yaitu “Tony Riandi” bilang kalau Rei suka sama Tony (PD amat sih lo) ! Nggak gitu yang sebenernya, emang Rei pernah nanya tentang Tony tapi itu karena muka Tony itu mirip banget sama mantannya , muka pasaran yah ? Terus ada juga yang namanya “Nimas Ramdani” dia syirik soalnya Rei itu cewek yang exis banget, (Siapa sih yang enggak kenal Rei ?) nah kalau Si Rika tadi ngeliat Rei langsung saja matanya melotot enggak berkedip, lain lagi dengan Nimas, setiap ketemu Rei di manapun itu dia selalu bilang Rei “gondes” . Hem gondes kok teriak gondes sih ! lagi marak nih kayaknya kata-kata. Kalau cowok yang enggak suka Rei namanya “Edo Hermawan” kok bisa ya ? hem entah lah.
Selain dari itu masih banyak lagi yang enggak suka dengan gaya Rei dan pastinya enggak mungkin disebutin satu persatu, yang jelas kata centil, sombong, sok pintar, sok cantik dan sebagainya itu sudah enggak asing lagi ditelinga Rei, tapi apa responnya ? Cuek saja :o
Seperti siang itu,
“Rei kamu pura-pura enggak tahu atau memang enggak tahu sih !” bentak Herlin temannya.
“Apa ?”
“Dari tadi setiap kita jalan orang-orang ngomongin kamu tau enggak ! kamu kok diam saja sih ! rubah dong sikap kamu, kan aku juga yang malu !”
Tapi apa tanggapan Rei,
“Yah. . .whatever they say lah, no problem with me.”
“Tapi Rei. . .”
“Dengar Her, gue ya gue, mereka ya mereka ! untuk apa memperdulikan mereka kalau cuma merugikan gue ! Mereka itu cuma syirik sama gue dan syirik itu tandanya enggak mampu ! anggap saja semakin banyak orang yang syirik sama gue semakin banyak pula kelebihan yang tampak dari gue ! toh gue hidup bukan karena dan untuk mereka, walaupun mereka terus menyibukkan diri untuk ngomongin gue , gue akan tetap hidup kok ! ya enggak ?”
Lalu Rei nyanyi lagunya ARMADA yang lagi naik daun itu lo !
“biarlah orang berkata apa ouo ooo, yang penting aku bahagia ouo ooo. . .”
sambil dengan santainya ngeloyor pergi, ckckckckck. Herlin cuma terbengong-bengong melihat sikapnya :o
“Ya jelas lah gue nggak terima dan marah-marah sama dia kak, gue bilang dia terlalu kepedean, eh dia langsung ngatain gue kalo gue itu harusnya menyadari kekurangan gue bukannnya malah sok jual mahal, gue enggak tahan terus lari kak.” (Sedih banget ya ?) ;(
“Oh begitu ? eh tapi bukannya kamu sudah biasa di ejek gitu sama teman-teman kamu, dan biasanya kamu nggak nangis malah cuek saja? “
“Iya sih kak. . .tapi ini beda.”
“Beda gimana maksud kamu ? “
“Gue kan. . .(Upsss hampir saja dia bilang kalau dia suka sama Galang).
Dalam hati Rei bergumam “tega banget sih Si Galang itu ngomong kayak gitu sama gue.” !
“Heh ! kenapa ? kok malah bengong, kamu sakit ? “
“Eh, emb. . .a, anu kak enggak jadi deh gue laper banget mau makan, gue ganti baju dulu ya ? “
“Dasar kamu ini Rei. . .Rei, yang ditanya ini jawabnya itu, ya sudah kakak keluar dulu mau nyiapin makanan untuk kamu.”
“Ok my sista !!! “
______________________________________________________________________________________
Paginya di gerbang sekolah Rei, segerombolan cewek-cewek lagi asyik bisik-bisik tetangga sambil nunjuk ke arah seorang cewek yang tampaknya baru tiba di sekolah. Siapa cewek itu ? Yah siapa lagi kalau bukan Reina Dermawan. Rei tahu betul kalau dirinya lah yang sedang menjadi bahan olokan gerombolan itu tapi dengan gayanya yang super cuek dia terus berjalan tanpa menoleh.
“Sudah biasa” pikirnya.
Perlu READERS tahu, di sekolah itu banyak sekali yang enggak suka bahkan syirik sama Rei dan rata-rata semuanya cewek tapi ada juga sih yang cowok. Contohnya saja nih yang namanya “Rika alputri” dia enggak suka sama Rei cuma gara-gara cowoknya Rika, yaitu “Tony Riandi” bilang kalau Rei suka sama Tony (PD amat sih lo) ! Nggak gitu yang sebenernya, emang Rei pernah nanya tentang Tony tapi itu karena muka Tony itu mirip banget sama mantannya , muka pasaran yah ? Terus ada juga yang namanya “Nimas Ramdani” dia syirik soalnya Rei itu cewek yang exis banget, (Siapa sih yang enggak kenal Rei ?) nah kalau Si Rika tadi ngeliat Rei langsung saja matanya melotot enggak berkedip, lain lagi dengan Nimas, setiap ketemu Rei di manapun itu dia selalu bilang Rei “gondes” . Hem gondes kok teriak gondes sih ! lagi marak nih kayaknya kata-kata. Kalau cowok yang enggak suka Rei namanya “Edo Hermawan” kok bisa ya ? hem entah lah.
Selain dari itu masih banyak lagi yang enggak suka dengan gaya Rei dan pastinya enggak mungkin disebutin satu persatu, yang jelas kata centil, sombong, sok pintar, sok cantik dan sebagainya itu sudah enggak asing lagi ditelinga Rei, tapi apa responnya ? Cuek saja :o
Seperti siang itu,
“Rei kamu pura-pura enggak tahu atau memang enggak tahu sih !” bentak Herlin temannya.
“Apa ?”
“Dari tadi setiap kita jalan orang-orang ngomongin kamu tau enggak ! kamu kok diam saja sih ! rubah dong sikap kamu, kan aku juga yang malu !”
Tapi apa tanggapan Rei,
“Yah. . .whatever they say lah, no problem with me.”
“Tapi Rei. . .”
“Dengar Her, gue ya gue, mereka ya mereka ! untuk apa memperdulikan mereka kalau cuma merugikan gue ! Mereka itu cuma syirik sama gue dan syirik itu tandanya enggak mampu ! anggap saja semakin banyak orang yang syirik sama gue semakin banyak pula kelebihan yang tampak dari gue ! toh gue hidup bukan karena dan untuk mereka, walaupun mereka terus menyibukkan diri untuk ngomongin gue , gue akan tetap hidup kok ! ya enggak ?”
Lalu Rei nyanyi lagunya ARMADA yang lagi naik daun itu lo !
“biarlah orang berkata apa ouo ooo, yang penting aku bahagia ouo ooo. . .”
sambil dengan santainya ngeloyor pergi, ckckckckck. Herlin cuma terbengong-bengong melihat sikapnya :o
______________________________________________________________________________________
Rei pergi mencari teman-teman cowok yang merupakan anggota gengnya untuk membuat rencana kenakalan yang akan dia lakukan hari itu. Dia memang suka mengacau, ada saja ulahnya yang membuat orang-orang kesal bahkan marah padanya. Ia sering menempelkan permen karet di kursi gurunya, membawa kecoa untuk menakuti cewek-cewek di kelasnya dan setelah cewek-cewek itu menjerit ketakutan dia pergi tanpa rasa bersalah. Pokoknya setiap hari ada saja kejahilan dan keonaran yang membuatnya di hukum dan di panggil ke BK (bimbingan konseling), omona. . .itu semua dia lakukan hanya untuk mencari perhatian.
Apakah dia kurang perhatian ? baginya iya. Diluar sifatnya yang cuek, nakal dan keras dia menyimpan kepedihan yang sangat dalam. Terkadang dia sering menangis seorang diri di kamarnya, mengutuki takdir yang baginya sangat tidak adil. Ia memang mempunyai seorang kakak yang sangat menyayangi dan memperhatikan dia, tapi dimana kedua orang tuanya ?
Kedua orang tua Rei bercerai ketika Rei masih SMP, hati Rei begitu terpukul ketika mengetahui penyebab perceraian kedua orang tuanya karena Bundanya main belakang dengan rekan kerja Ayah Rei sendiri yang merupakan Ayah dari sahabat terdekat Rei, Mimy Armona Setyawan. Sebenarnya Mimy sudah lama mengetahui hubungan gelap Ayahnya dengan Bunda Rei, tapi Mimy enggak tega untuk mengatakan semua itu pada Rei. Ketika Mimy menjelaskan tentang itu, semuanya sudah terlambat karena Rei sudah mengetahui itu terlebih dahulu, Dia memaki-maki Mimy dengan penuh amarah, mengatakan Mimy sebagai penghianat dan Rei tidak akan pernah memaafkan Mimy seumur hidupnya. Sedangkan Ayah Rei sejak ditinggal istrinya menjadi sakit-sakitan dan akhir nya meninggal dunia.
Derita yang beruntun-runtun itu membuat Rei syok dan membenci semua orang yang telah menyakitinya, Ia bertekad untuk tidak akan pernah perduli pada orang lain bahkan tidak akan mempercayai siapapun meskipun itu teman-temannya terkecuali kakaknya, sifatnya menjadi kasar, arogan, dan sering marah-marah tanpa sebab.
Lulus dari SMP, Rei di bawa kakaknya ke Jambi dan meninggalkan kota Jakarta kota tempat kelahirannya. Mereka berdua mengontrak sebuah rumah sederhana di Jalan Ahmad Yani , Muara bulian. Dalam keadaan apapun hanya Reni lah yang bisa meluluhkan kerasnya hati Rei. Masa lalu Rei yang begitu tragis membuatnya sulit bergaul, dia membutuhkan kasih sayang yang tulus untuk mengobati lukanya. Ingatan masa lalu membuat butir-butir bening dipelupuk matanya mengalir deras.
“Rei ?”
Seorang cowok menegur Rei ketika dia melamun sendirian di kelas.
“Hah ! apa ? kebakaran ya ?”
“Eh lo bencong, ngapain lo kesini ? ganggu saja ! pergi sana !” Rei memarahi cowok itu dengan kasar.
“Maaf Rei kalau aku ganggu kamu, kirain tadi kamu sakit.” Cowok itu menundukkan kepala sambil meminta maaf pada Rei, sepertinya dia merasa sangat bersalah.
“Nggak ! sudah gue bilang pergi ya pergi ! dasar bencong ! nggak punya telinga lo ya atau nggak ngerti bahasa manusia ?” Rei membentak cowok itu tanpa memandang wajahnya karena sebenarnya dia juga merasa enggak tega, dia berusaha menutupi kesedihannya. Dia memukul meja dengan keras dan cowok itu pun pergi.
Cowok itu namanya Micky Arjuno Setyawan teman sekelas Rei, dia anak yang aktif dalam bidang olahraga, juga pintar dalam hal pelajaran selain itu dia juga tampan enggak heran kalau banyak cewek yang ngejar -ngejar dia, saingan Galang. Dia mempunyai perhatian lebih untuk Rei karena memang dari kelas X dia suka sama Rei dan tentu saja Rei sadar akan perasaan Micky tapi hati Rei sudah terlalu beku untuk membuka hatinya bukan karena dia menyukai Galang, dia menyadari kalau rasanya pada Galang hanyalah perasaan sesaat. Micky sangat baik, dia tahu kalau sebenarnya Rei itu enggak seperti yang orang lain katakan dan justru karena itulah Rei berusaha menghindarinya, dia takut menyakiti Micky.
______________________________________________________________________________________
Hari-hari di sekolah itu berangsur-angsur tenang enggak seperti biasanya, ada apa ya ? Rupanya sedikit demi sedikit kejahilan Rei berkurang , hal itu membuat guru-guru tersenyum penuh kemenangan.
Eitttsss. . .jangan senang dulu “pikir Rei ketika menyadari guru-guru mulai ramah padanya. Ternyata dia telah merencanakan kejutan yang lebih besar yang tentunya akan membuat sekolah itu gempar.
Esok paginya, apa yang terjadi ? Rei beserta teman-teman cowoknya dan juga teman sekelasnya melakukan aksi demo karena guru-guru terlalu banyak memberikan tugas pada siswa-siswinya. Ada kertas yang bertuliskan “Guru-guru menyiksa kami dengan tugas” ada juga yang menulis “Banyak tugas yang diberikan, banyak pula uang yang dikeluarkan!” Yah namanya saja sekolah, memang harus begitu kan ?
Kejadian ini menarik para wartawan untuk meng_expose sekolah Rei tapi dengan sigap diusir oleh security. Setelah pihak sekolah berhasil mengontrol kekacauan ini dan keadaan sudah mulai kondusif, barulah mereka tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini, ya siapa lagi ? provokatornya adalah Reina Dermawan yang tentunya langsung di bawa ke BK dan berlanjut ke kantor Polisi. Waduh ! sampai kantor polisi ? kok jadi ribet gini sih masalahnya !
Di kantor polisi dia di interogasi, yah bahasa halusnya di Tanya-tanya banyak hal oleh petugas tetapi, dia tetap saja memasang muka enggak bersalah dan cuek, oh my god ! disampingnya sudah ada kakaknya yang menjelaskan duduk perkaranya dengan pelbagai alasan dan akhirnya dia dibebaskan tentunya dengan perjanjian ini-itu, huft lega.
“Rei, kakak enggak mau dengar kejadian ini terulang lagi, lagian apa sih maksud kamu melakukan ini semua ? belum puas kamu liat kakak di panggil terus ke sekolah kamu ? kakak benar-benar enggak ngerti dengan sikap kamu !”
”Maaf kak, gue cuma. . .”
“Sudahlah kakak enggak mau dengar alasan apapun ! kakak harus kembali ke kantor dan kamu kembali ke sekolah, ingat ! jangan ulangi perbuatan ini !”
Rei pergi mencari teman-teman cowok yang merupakan anggota gengnya untuk membuat rencana kenakalan yang akan dia lakukan hari itu. Dia memang suka mengacau, ada saja ulahnya yang membuat orang-orang kesal bahkan marah padanya. Ia sering menempelkan permen karet di kursi gurunya, membawa kecoa untuk menakuti cewek-cewek di kelasnya dan setelah cewek-cewek itu menjerit ketakutan dia pergi tanpa rasa bersalah. Pokoknya setiap hari ada saja kejahilan dan keonaran yang membuatnya di hukum dan di panggil ke BK (bimbingan konseling), omona. . .itu semua dia lakukan hanya untuk mencari perhatian.
Apakah dia kurang perhatian ? baginya iya. Diluar sifatnya yang cuek, nakal dan keras dia menyimpan kepedihan yang sangat dalam. Terkadang dia sering menangis seorang diri di kamarnya, mengutuki takdir yang baginya sangat tidak adil. Ia memang mempunyai seorang kakak yang sangat menyayangi dan memperhatikan dia, tapi dimana kedua orang tuanya ?
Kedua orang tua Rei bercerai ketika Rei masih SMP, hati Rei begitu terpukul ketika mengetahui penyebab perceraian kedua orang tuanya karena Bundanya main belakang dengan rekan kerja Ayah Rei sendiri yang merupakan Ayah dari sahabat terdekat Rei, Mimy Armona Setyawan. Sebenarnya Mimy sudah lama mengetahui hubungan gelap Ayahnya dengan Bunda Rei, tapi Mimy enggak tega untuk mengatakan semua itu pada Rei. Ketika Mimy menjelaskan tentang itu, semuanya sudah terlambat karena Rei sudah mengetahui itu terlebih dahulu, Dia memaki-maki Mimy dengan penuh amarah, mengatakan Mimy sebagai penghianat dan Rei tidak akan pernah memaafkan Mimy seumur hidupnya. Sedangkan Ayah Rei sejak ditinggal istrinya menjadi sakit-sakitan dan akhir nya meninggal dunia.
Derita yang beruntun-runtun itu membuat Rei syok dan membenci semua orang yang telah menyakitinya, Ia bertekad untuk tidak akan pernah perduli pada orang lain bahkan tidak akan mempercayai siapapun meskipun itu teman-temannya terkecuali kakaknya, sifatnya menjadi kasar, arogan, dan sering marah-marah tanpa sebab.
Lulus dari SMP, Rei di bawa kakaknya ke Jambi dan meninggalkan kota Jakarta kota tempat kelahirannya. Mereka berdua mengontrak sebuah rumah sederhana di Jalan Ahmad Yani , Muara bulian. Dalam keadaan apapun hanya Reni lah yang bisa meluluhkan kerasnya hati Rei. Masa lalu Rei yang begitu tragis membuatnya sulit bergaul, dia membutuhkan kasih sayang yang tulus untuk mengobati lukanya. Ingatan masa lalu membuat butir-butir bening dipelupuk matanya mengalir deras.
“Rei ?”
Seorang cowok menegur Rei ketika dia melamun sendirian di kelas.
“Hah ! apa ? kebakaran ya ?”
“Eh lo bencong, ngapain lo kesini ? ganggu saja ! pergi sana !” Rei memarahi cowok itu dengan kasar.
“Maaf Rei kalau aku ganggu kamu, kirain tadi kamu sakit.” Cowok itu menundukkan kepala sambil meminta maaf pada Rei, sepertinya dia merasa sangat bersalah.
“Nggak ! sudah gue bilang pergi ya pergi ! dasar bencong ! nggak punya telinga lo ya atau nggak ngerti bahasa manusia ?” Rei membentak cowok itu tanpa memandang wajahnya karena sebenarnya dia juga merasa enggak tega, dia berusaha menutupi kesedihannya. Dia memukul meja dengan keras dan cowok itu pun pergi.
Cowok itu namanya Micky Arjuno Setyawan teman sekelas Rei, dia anak yang aktif dalam bidang olahraga, juga pintar dalam hal pelajaran selain itu dia juga tampan enggak heran kalau banyak cewek yang ngejar -ngejar dia, saingan Galang. Dia mempunyai perhatian lebih untuk Rei karena memang dari kelas X dia suka sama Rei dan tentu saja Rei sadar akan perasaan Micky tapi hati Rei sudah terlalu beku untuk membuka hatinya bukan karena dia menyukai Galang, dia menyadari kalau rasanya pada Galang hanyalah perasaan sesaat. Micky sangat baik, dia tahu kalau sebenarnya Rei itu enggak seperti yang orang lain katakan dan justru karena itulah Rei berusaha menghindarinya, dia takut menyakiti Micky.
______________________________________________________________________________________
Hari-hari di sekolah itu berangsur-angsur tenang enggak seperti biasanya, ada apa ya ? Rupanya sedikit demi sedikit kejahilan Rei berkurang , hal itu membuat guru-guru tersenyum penuh kemenangan.
Eitttsss. . .jangan senang dulu “pikir Rei ketika menyadari guru-guru mulai ramah padanya. Ternyata dia telah merencanakan kejutan yang lebih besar yang tentunya akan membuat sekolah itu gempar.
Esok paginya, apa yang terjadi ? Rei beserta teman-teman cowoknya dan juga teman sekelasnya melakukan aksi demo karena guru-guru terlalu banyak memberikan tugas pada siswa-siswinya. Ada kertas yang bertuliskan “Guru-guru menyiksa kami dengan tugas” ada juga yang menulis “Banyak tugas yang diberikan, banyak pula uang yang dikeluarkan!” Yah namanya saja sekolah, memang harus begitu kan ?
Kejadian ini menarik para wartawan untuk meng_expose sekolah Rei tapi dengan sigap diusir oleh security. Setelah pihak sekolah berhasil mengontrol kekacauan ini dan keadaan sudah mulai kondusif, barulah mereka tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini, ya siapa lagi ? provokatornya adalah Reina Dermawan yang tentunya langsung di bawa ke BK dan berlanjut ke kantor Polisi. Waduh ! sampai kantor polisi ? kok jadi ribet gini sih masalahnya !
Di kantor polisi dia di interogasi, yah bahasa halusnya di Tanya-tanya banyak hal oleh petugas tetapi, dia tetap saja memasang muka enggak bersalah dan cuek, oh my god ! disampingnya sudah ada kakaknya yang menjelaskan duduk perkaranya dengan pelbagai alasan dan akhirnya dia dibebaskan tentunya dengan perjanjian ini-itu, huft lega.
“Rei, kakak enggak mau dengar kejadian ini terulang lagi, lagian apa sih maksud kamu melakukan ini semua ? belum puas kamu liat kakak di panggil terus ke sekolah kamu ? kakak benar-benar enggak ngerti dengan sikap kamu !”
”Maaf kak, gue cuma. . .”
“Sudahlah kakak enggak mau dengar alasan apapun ! kakak harus kembali ke kantor dan kamu kembali ke sekolah, ingat ! jangan ulangi perbuatan ini !”
“Ya kak.” Setitik air mata
mengalir dari mata Rei saat Reni telah meninggalkanya, tapi setelah itu dia
tersenyum dan menghapus air matanya.
“Ini kehidupan gue, gue harusnya senang.”
Sementara itu, Micky cepat-cepat menyusul Rei dengan motornya, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Rei. Sesampainya di depan kantor polisi dia bertemu dengan Rei yang baru keluar. Rei berusaha menghindari Micky tapi dengan cepat Micky menarik tangannya lalu menggenggamnya erat-erat, Oppa:*. . . setelah sempat berpandangan sekilas Rei melepaskan tangan Micky dan marah-marah.
“Apaan sih lo!”
“Hentikan semua ini Rei, aku mohon .”
“Heh ! lo kira gue ngapain ? dan apa hak lo nyuruh-nyuruh gue menghentikan apa yang gue lakuin !”
“Meskipun enggak tau dengan pasti penyebabnya tapi aku tahu kamu melakukan ini semua karena kamu pernah tersakiti, ya kan Rei ?”
“Jangan sok tau dan lo enggak berhak mencampuri urusan gue !”
“Aku berhak mencampuri urusan seseorang yang aku sayangi.” Oppa. . .
Mereka berdua diam terpaku untuk beberapa saat, Micky enggak mengira dia berani ngungkapin itu dan Rei juga enggak menyangka kalau Micky bakal secepat itu ngungkapin perasaannya.
“Sorry Mick lo bukan siapa-siapa gue.” Rei memalingkan mukanya.
“Dengar, kalau untuk masuk ke kehidupan kamu aku harus menjadi sesuatu bagi kamu, jadikanlah aku kekasihmu.”
Air mata ketulusan menetes dari mata Reina untuk yang pertama kali dari sekian lamanya, dia tak sanggup mendengar kata-kata itu, terlintas sejenak bayangan masa lalunya dia takut menyayangi kalau untuk tersakiti, dia juga takut menyakiti Micky. Dia bersitegas untuk mengakhiri semua ini, mengabaikan perasaan Micky juga perasaannya.
“Tolong Mick, pergi dan jauhi gue, anggap saja lo enggak pernah kenal gue atau lo milih gue yang pergi.” Dengan tegas Rei mengatakan itu lalu pergi meninggalkan Micky yang masih terpaku menatap punggung Rei.
______________________________________________________________________________________
Di rumahnya Rei sangat kebingungan, hatinya gundah dan galau karena dia menyadari kalau dirinya benar-benar telah jatuh hati pada Micky.
“Aku enggak boleh begini, cinta cuma bisa buat gue tambah lemah dan enggak bisa berfikir dengan normal, lagian gue enggak habis pikir sama Si Micky Mouse itu berani-beraninya dia bikin gue kayak gini, Arrrggghhhttt. . . I HATE YOU Micky !!!”
Jam kodok dikamar Rei menunjukkan pukul 8.00 malam, Rei masih terlihat gelisah entah apa yang ada difikirannya sambil menerawang langit-langit kamarnya, hujan turun sangat deras. Samar-samar dia mendengar suara orang memanggilnya dan melongok dari jendela, ternyata Micky.
“Rei aku sayang kamu, tolong percaya sama aku ! aku enggak bisa menjauhi dan melupakanmu apalagi menghindari kamu Rei !”
Rei hanya mengintip sambil mengerutu penuh kekesalan saat kakaknya datang dan menyuruhnya menemui Micky.
“Huh ! dasar playboy sebentar lagi juga pergi.”
“Jangan begitu Rei, sepertinya dia benar-benar tulus kalau enggak mana mungkin dia mau hujan-hujanan gitu cuma demi kamu, temuilah.” Bujuk kakaknya.
“Enggak !”
“Rei !”
“Pokoknya enggak kak !”
“Percuma kakak ngomong sama kamu, terserah kamu lah Rei tapi yang jelas jangan menyesal kalau terjadi sesuatu sama dia.” Kata kakaknya sambil berlalu meninggalkan Rei.
Seperginya Reni, Rei membuka jendela kamarnya lalu melihat Micky.
“Enggak akan ada yang perduli sama lo lebih baik lo pergi dari sini !”
“aku enggak akan pergi sebelum kamu mau nerima aku !”
“Dasar keras kepala, tunggu saja sampai kapanpun di situ karena gue enggak akan pernah nemuin lo!” Rei menutup kembali jendelanya.
Rei berbaring di tempat tidur, menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya tapi enggak bisa, sedangkan hujan turun semakin deras mengguyur tubuh Micky tanpa ampun namun dia tak juga beranjak, sepertinya hujan badai pun tak akan menggoyahkan pendiriannya.
“Aku akan tetap menunggu kamu Rei.” ucapnya lirih pada dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan, satu jam sudah Rei mencoba mengabaikan Micky. Lalu dia bangun membuka tirai jendela mencoba mengintip.
“Dia belum pergi juga, memang keras kepala, huh !”
“Ini kehidupan gue, gue harusnya senang.”
Sementara itu, Micky cepat-cepat menyusul Rei dengan motornya, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Rei. Sesampainya di depan kantor polisi dia bertemu dengan Rei yang baru keluar. Rei berusaha menghindari Micky tapi dengan cepat Micky menarik tangannya lalu menggenggamnya erat-erat, Oppa:*. . . setelah sempat berpandangan sekilas Rei melepaskan tangan Micky dan marah-marah.
“Apaan sih lo!”
“Hentikan semua ini Rei, aku mohon .”
“Heh ! lo kira gue ngapain ? dan apa hak lo nyuruh-nyuruh gue menghentikan apa yang gue lakuin !”
“Meskipun enggak tau dengan pasti penyebabnya tapi aku tahu kamu melakukan ini semua karena kamu pernah tersakiti, ya kan Rei ?”
“Jangan sok tau dan lo enggak berhak mencampuri urusan gue !”
“Aku berhak mencampuri urusan seseorang yang aku sayangi.” Oppa. . .
Mereka berdua diam terpaku untuk beberapa saat, Micky enggak mengira dia berani ngungkapin itu dan Rei juga enggak menyangka kalau Micky bakal secepat itu ngungkapin perasaannya.
“Sorry Mick lo bukan siapa-siapa gue.” Rei memalingkan mukanya.
“Dengar, kalau untuk masuk ke kehidupan kamu aku harus menjadi sesuatu bagi kamu, jadikanlah aku kekasihmu.”
Air mata ketulusan menetes dari mata Reina untuk yang pertama kali dari sekian lamanya, dia tak sanggup mendengar kata-kata itu, terlintas sejenak bayangan masa lalunya dia takut menyayangi kalau untuk tersakiti, dia juga takut menyakiti Micky. Dia bersitegas untuk mengakhiri semua ini, mengabaikan perasaan Micky juga perasaannya.
“Tolong Mick, pergi dan jauhi gue, anggap saja lo enggak pernah kenal gue atau lo milih gue yang pergi.” Dengan tegas Rei mengatakan itu lalu pergi meninggalkan Micky yang masih terpaku menatap punggung Rei.
______________________________________________________________________________________
Di rumahnya Rei sangat kebingungan, hatinya gundah dan galau karena dia menyadari kalau dirinya benar-benar telah jatuh hati pada Micky.
“Aku enggak boleh begini, cinta cuma bisa buat gue tambah lemah dan enggak bisa berfikir dengan normal, lagian gue enggak habis pikir sama Si Micky Mouse itu berani-beraninya dia bikin gue kayak gini, Arrrggghhhttt. . . I HATE YOU Micky !!!”
Jam kodok dikamar Rei menunjukkan pukul 8.00 malam, Rei masih terlihat gelisah entah apa yang ada difikirannya sambil menerawang langit-langit kamarnya, hujan turun sangat deras. Samar-samar dia mendengar suara orang memanggilnya dan melongok dari jendela, ternyata Micky.
“Rei aku sayang kamu, tolong percaya sama aku ! aku enggak bisa menjauhi dan melupakanmu apalagi menghindari kamu Rei !”
Rei hanya mengintip sambil mengerutu penuh kekesalan saat kakaknya datang dan menyuruhnya menemui Micky.
“Huh ! dasar playboy sebentar lagi juga pergi.”
“Jangan begitu Rei, sepertinya dia benar-benar tulus kalau enggak mana mungkin dia mau hujan-hujanan gitu cuma demi kamu, temuilah.” Bujuk kakaknya.
“Enggak !”
“Rei !”
“Pokoknya enggak kak !”
“Percuma kakak ngomong sama kamu, terserah kamu lah Rei tapi yang jelas jangan menyesal kalau terjadi sesuatu sama dia.” Kata kakaknya sambil berlalu meninggalkan Rei.
Seperginya Reni, Rei membuka jendela kamarnya lalu melihat Micky.
“Enggak akan ada yang perduli sama lo lebih baik lo pergi dari sini !”
“aku enggak akan pergi sebelum kamu mau nerima aku !”
“Dasar keras kepala, tunggu saja sampai kapanpun di situ karena gue enggak akan pernah nemuin lo!” Rei menutup kembali jendelanya.
Rei berbaring di tempat tidur, menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya tapi enggak bisa, sedangkan hujan turun semakin deras mengguyur tubuh Micky tanpa ampun namun dia tak juga beranjak, sepertinya hujan badai pun tak akan menggoyahkan pendiriannya.
“Aku akan tetap menunggu kamu Rei.” ucapnya lirih pada dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan, satu jam sudah Rei mencoba mengabaikan Micky. Lalu dia bangun membuka tirai jendela mencoba mengintip.
“Dia belum pergi juga, memang keras kepala, huh !”
Terus diperhatikanya Micky, entah kenapa
ada perasaan yang tak bisa dijabarkan saat itu yang membuatnya harus turun,
apakah perasaan cinta ? entahlah mungkin ketulusan Micky yang telah meluluhkan
hatinya. Dicarinya payung lalu cepat-cepat membuka pintu dan menuju ke tempat
Micky, dikembangkannya payung yang dia bawa tadi untuk melindungi Micky dan
dirinya sendiri dari hujan.”
“Errr. . Rei ?” bibir Micky bergetar karena terlalu lama diguyur air hujan.
“Sudahlah Mick untuk apa lo nyiksa diri lo sendiri kayak gini, lebih baik lo pulang sekarang lagian ini sudah malam, nih bawa payung gue !” Rei menyodorkan payungnya.
Micky menjatuhkan payung itu dari tangan Rei dan lansung menarik tangan Rei, merapatkan tubuh Rei ke dadanya sontak saja Rei sangat terkejut tapi Micky langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Rei.
“Aku akan pergi tapi setelah kamu menerimaku, karena aku sangat mencintaimu.” Bisiknya dengan lirih namun mampu membuat jantung Rei berdetak sangat keras enggak seperti biasanya, di sambut petir yang menggelegar. Rei menarik dirinya melepaskan tubuhnya dari tangan kokoh Micky.
“Gue enggak cinta sama lo !”
“Kamu bohong Rei aku tau itu, untuk apa kamu turun kalau kamu enggak ada perasaan juga sama aku, kamu enggak mungkin merasa kasihan sama aku karena aku cowok !”
“Deg !” jantung Rei berdegup.
“i. . .i. . .itu ka. . .karena. . .”
“Karena apa Rei ? Karena kamu juga cinta sama aku ? iya kan Rei ? jawab Rei !”
Rei menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara yang hampir enggak terdengar.
“Iya. . .”
“Apa Rei ?”
Masih dengan suara yang sangat pelan namun tetap terdengar di telinga Micky.
“Iya Mick. . .”
“Errr. . Rei ?” bibir Micky bergetar karena terlalu lama diguyur air hujan.
“Sudahlah Mick untuk apa lo nyiksa diri lo sendiri kayak gini, lebih baik lo pulang sekarang lagian ini sudah malam, nih bawa payung gue !” Rei menyodorkan payungnya.
Micky menjatuhkan payung itu dari tangan Rei dan lansung menarik tangan Rei, merapatkan tubuh Rei ke dadanya sontak saja Rei sangat terkejut tapi Micky langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Rei.
“Aku akan pergi tapi setelah kamu menerimaku, karena aku sangat mencintaimu.” Bisiknya dengan lirih namun mampu membuat jantung Rei berdetak sangat keras enggak seperti biasanya, di sambut petir yang menggelegar. Rei menarik dirinya melepaskan tubuhnya dari tangan kokoh Micky.
“Gue enggak cinta sama lo !”
“Kamu bohong Rei aku tau itu, untuk apa kamu turun kalau kamu enggak ada perasaan juga sama aku, kamu enggak mungkin merasa kasihan sama aku karena aku cowok !”
“Deg !” jantung Rei berdegup.
“i. . .i. . .itu ka. . .karena. . .”
“Karena apa Rei ? Karena kamu juga cinta sama aku ? iya kan Rei ? jawab Rei !”
Rei menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara yang hampir enggak terdengar.
“Iya. . .”
“Apa Rei ?”
Masih dengan suara yang sangat pelan namun tetap terdengar di telinga Micky.
“Iya Mick. . .”
“Ulangi Rei !”
“Iya Micky Mouse, gue juga cinta sama lo
dan gue mau jadi pacar lo !!! pu. . .”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, M
icky sudah menutup mulut Rei dengan jari telunjuknya lalu kedua tangannya
memegang bahu Rei kemudian pipinya dan satu kecupan mendarat di kening Rei, oh
so sweet. . .
Rei sangat terkejut dan mencoba berontak, tapi dengan cepat Micky merengkuhnya, memeluknya dengan erat dan tanpa di sadari Rei membalas pelukan itu dengan mesra.
“I LOVE YOU REI.” Bisik Micky.
“I LOVE YOU TOO MICK.” Balasnya
______________________________________________________________________________________
Hari-hari Rei di sekolah kini terasa berbeda dengan kehadiran Micky di sampingnya, kebahagiaan terpancar di wajahnya. Kenakalan dan keisengannya hilang tanpa dia sadari, bahkan seolah-olah dia enggak lagi memikirkan kesedihannya karena waktunya kini di habiskan untuk merajut kasih bersama Micky, dimana ada Micky pasti di situ ada Rei. Enggak ada waktu untuk berbuat onar, enggak ada waktu untuk berkumpul bersama teman-teman cowoknya.
Keadaan ini membuat iri kedua belah pihak, yaitu pihak Rei yang nerupakan gengnya dan pihak cewek-cewek yang menaruh hati pada Micky seperti Lili Arrasty yang enggak menyukai hubungan mereka, Lili membenci Rei sehingga dia selalu mengatakan sesuatu yang enggak-enggak tentang Rei bahkan menjelek-jelekkannya.
Dan yang enggak di sangka, Galang juga merasa iri dengan kedua pasangan itu, bencinya pada Rei berbalik 180omenjadi suka, Beberapa kali dia mencoba menghancurkan hubungan Rei dan Micky dan seringkali menyebabkan terjadinya pertengkaran antara kedua pasangan tersebut.
Tapi kekuatan cinta lah yang membuat mereka masih terus bersama, melewati semua masalah bersama, masalah-masalah itu semakin membuat mereka yakin akan perasaan masing-masing.
Dua tahun sudah berlalu, mereka lulus dari SMA dengan nilai yang cukup memuaskan. Rei memutuskan untuk mengikuti Micky melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Jakarta sekaligus mengenalkan dirinya pada Mama Micky yang memang tinggal di Jakarta, yah Micky juga berasal dari Jakarta dia mengikuti pamanya ke Jambi untuk memperbaiki perilakunya karena dia sempat menjadi pecandu narkoba. Dia ikut dengan Micky tentu saja dengan persetujuan Reni, namun Reni enggak bisa mengikuti adiknya ke Jakarta karena dia enggak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Rei dan Micky sudah berada di bandara Sultan Taha, Reni mengantar kepergian mereka dengan tangis haru karena ini kali pertamanya dia harus berpisah dengan adik semata wayangnya yang sangat di cintainya itu.
“Selamat jalan Rei, jaga diri kamu baik-baik, kakak pasti akan sangat merindukan kamu.” Di peluknya Rei dengan erat seakan tak rela membiarkannya pergi.
“Iya kak, gue pasti baik-baik saja kok gue juga bakal inget semua pesan lo kak tapi lo baik-baik juga ya ?”
“Iya sayang berangkatlah, Micky sudah menunggu kamu.”
Pesawat lepas landas.
____________________________________________________________________________________
Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Micky langsung menelepon Mamanya.
“Hallo Ma, Micky sudah sampai di Jakarta dan sekarang sedang menuju ke rumah.”
“Ok cepat ya sayang, Mama sudah kangen banget sama kamu dan juga sudah enggak sabaran ketemu pacar kamu.”
“Iya Mama, bye ?”
Tut. . .tut. . .tut. . . percakapan singkat itu berakhir.
“Huh dasar Mama, selalu begini langsung di matiin.”
“Bagus dong seperti gue.” Kata Rei.
“Kasian akunya dong sayang.”
“Itu mah bukan urusan gue, eh kira-kira nyokap lo bakal nerima gue apa adanya enggak ya ?”
“Ya pastinya dong Rei, Mama aku itu baik.
Tak terasa TAXI yang membawa mereka telah sampai di halaman rumah Micky. Setelah membayar mereka turun. Micky terus berjalan menuju rumah, sedangkan Rei masih terpaku, dia ragu-ragu untuk melangkah.
“Hei Rei ada apa, ayo masuk Mama pasti sudah menunggu di dalam.” Ajakan Micky mengagetkan Rei.
“Iya-iya.”
Ternyata benar Mama Micky telah siap menyambut kedatangan mereka dan bukan hanya itu, Beliau juga sudah menyiapkan hidangan untuk Rei.
“Micky kamu sudah begitu dewasa dan berubah, Mama senang bisa bersama kamu lagi dan gadis ini pasti Rei, iya kan sayang ?”
Rei dan Micky saling berpandangan kemudian tersenyum.
“Iya Mama sayang, Mama tampak lebih muda.”
“Terimakasih sayang kamu pintar sekali memuji pantas saja gadis secantik ini mau sama kamu.”
“Ah tante bisa saja.”
“Memang benar kok Rei tante enggak bercanda, Ya sudah deh masuk pasti kamu kecapek’an ya ? Tante sudah nyiapin makanan untuk kalian.”
Mereka bertiga masuk, Tante Tiara atau Mama Micky mempersilahkan Rei duduk.
“Kalian tunggu sebentar ya disini, Tante masuk sebentar Rei.”
“Iya tante.”
“Rei duduk saja aku mau meletakkan barang-barang di kamar dulu.” Kata Micky.
“Jangan lama-lama.”
“Iya sayangku.”
Rei memandang ke sekeliling rumah itu, matanya tertuju pada sebuah photo lama, Dia berdiri merasa enggak yakin dengan apa yang dilihatnya, mendekat dan memandang photo itu lekat-lekat, mengucek-ngucek matanya, merasa dia salah lihat tapi enggak, apa yang dilihatnya memang benar itu photo Mimy Armona Setyawan sahabatnya dulu yang tak mungkin dapat dia lupakan, di ujung kanan ada Ayahnya yang juga suami Bundanya sedangkan di ujung kiri Mama Rei, tapi siapa anak laki-laki yang ada di samping Mimy ? Ketika dia masih mengamati dengan rasa penasaran Tante Tiara datang dan menegurnya.
“Ada apa Rei ? itu photo keluarga tante dulu waktu kami masih utuh, laki-laki itu Papa Micky sedangkan gadis itu saudara kembar Micky. Kami bercerai waktu Micky masih kecil dan sekarang dia sudah menikah lagi dengan wanita lain.
“Jadi ini be. . .benar tante ?” air mata Rei menitik.
“Iya Rei memangnya kenapa ? kenapa kamu menangis ?”
“Laki-laki itu adalah Bajingan yang sudah menghancurkan keluarga gue ! dan menyebabkan Ayah gue meninggal !”
Rei sangat terkejut dan mencoba berontak, tapi dengan cepat Micky merengkuhnya, memeluknya dengan erat dan tanpa di sadari Rei membalas pelukan itu dengan mesra.
“I LOVE YOU REI.” Bisik Micky.
“I LOVE YOU TOO MICK.” Balasnya
______________________________________________________________________________________
Hari-hari Rei di sekolah kini terasa berbeda dengan kehadiran Micky di sampingnya, kebahagiaan terpancar di wajahnya. Kenakalan dan keisengannya hilang tanpa dia sadari, bahkan seolah-olah dia enggak lagi memikirkan kesedihannya karena waktunya kini di habiskan untuk merajut kasih bersama Micky, dimana ada Micky pasti di situ ada Rei. Enggak ada waktu untuk berbuat onar, enggak ada waktu untuk berkumpul bersama teman-teman cowoknya.
Keadaan ini membuat iri kedua belah pihak, yaitu pihak Rei yang nerupakan gengnya dan pihak cewek-cewek yang menaruh hati pada Micky seperti Lili Arrasty yang enggak menyukai hubungan mereka, Lili membenci Rei sehingga dia selalu mengatakan sesuatu yang enggak-enggak tentang Rei bahkan menjelek-jelekkannya.
Dan yang enggak di sangka, Galang juga merasa iri dengan kedua pasangan itu, bencinya pada Rei berbalik 180omenjadi suka, Beberapa kali dia mencoba menghancurkan hubungan Rei dan Micky dan seringkali menyebabkan terjadinya pertengkaran antara kedua pasangan tersebut.
Tapi kekuatan cinta lah yang membuat mereka masih terus bersama, melewati semua masalah bersama, masalah-masalah itu semakin membuat mereka yakin akan perasaan masing-masing.
Dua tahun sudah berlalu, mereka lulus dari SMA dengan nilai yang cukup memuaskan. Rei memutuskan untuk mengikuti Micky melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Jakarta sekaligus mengenalkan dirinya pada Mama Micky yang memang tinggal di Jakarta, yah Micky juga berasal dari Jakarta dia mengikuti pamanya ke Jambi untuk memperbaiki perilakunya karena dia sempat menjadi pecandu narkoba. Dia ikut dengan Micky tentu saja dengan persetujuan Reni, namun Reni enggak bisa mengikuti adiknya ke Jakarta karena dia enggak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Rei dan Micky sudah berada di bandara Sultan Taha, Reni mengantar kepergian mereka dengan tangis haru karena ini kali pertamanya dia harus berpisah dengan adik semata wayangnya yang sangat di cintainya itu.
“Selamat jalan Rei, jaga diri kamu baik-baik, kakak pasti akan sangat merindukan kamu.” Di peluknya Rei dengan erat seakan tak rela membiarkannya pergi.
“Iya kak, gue pasti baik-baik saja kok gue juga bakal inget semua pesan lo kak tapi lo baik-baik juga ya ?”
“Iya sayang berangkatlah, Micky sudah menunggu kamu.”
Pesawat lepas landas.
____________________________________________________________________________________
Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Micky langsung menelepon Mamanya.
“Hallo Ma, Micky sudah sampai di Jakarta dan sekarang sedang menuju ke rumah.”
“Ok cepat ya sayang, Mama sudah kangen banget sama kamu dan juga sudah enggak sabaran ketemu pacar kamu.”
“Iya Mama, bye ?”
Tut. . .tut. . .tut. . . percakapan singkat itu berakhir.
“Huh dasar Mama, selalu begini langsung di matiin.”
“Bagus dong seperti gue.” Kata Rei.
“Kasian akunya dong sayang.”
“Itu mah bukan urusan gue, eh kira-kira nyokap lo bakal nerima gue apa adanya enggak ya ?”
“Ya pastinya dong Rei, Mama aku itu baik.
Tak terasa TAXI yang membawa mereka telah sampai di halaman rumah Micky. Setelah membayar mereka turun. Micky terus berjalan menuju rumah, sedangkan Rei masih terpaku, dia ragu-ragu untuk melangkah.
“Hei Rei ada apa, ayo masuk Mama pasti sudah menunggu di dalam.” Ajakan Micky mengagetkan Rei.
“Iya-iya.”
Ternyata benar Mama Micky telah siap menyambut kedatangan mereka dan bukan hanya itu, Beliau juga sudah menyiapkan hidangan untuk Rei.
“Micky kamu sudah begitu dewasa dan berubah, Mama senang bisa bersama kamu lagi dan gadis ini pasti Rei, iya kan sayang ?”
Rei dan Micky saling berpandangan kemudian tersenyum.
“Iya Mama sayang, Mama tampak lebih muda.”
“Terimakasih sayang kamu pintar sekali memuji pantas saja gadis secantik ini mau sama kamu.”
“Ah tante bisa saja.”
“Memang benar kok Rei tante enggak bercanda, Ya sudah deh masuk pasti kamu kecapek’an ya ? Tante sudah nyiapin makanan untuk kalian.”
Mereka bertiga masuk, Tante Tiara atau Mama Micky mempersilahkan Rei duduk.
“Kalian tunggu sebentar ya disini, Tante masuk sebentar Rei.”
“Iya tante.”
“Rei duduk saja aku mau meletakkan barang-barang di kamar dulu.” Kata Micky.
“Jangan lama-lama.”
“Iya sayangku.”
Rei memandang ke sekeliling rumah itu, matanya tertuju pada sebuah photo lama, Dia berdiri merasa enggak yakin dengan apa yang dilihatnya, mendekat dan memandang photo itu lekat-lekat, mengucek-ngucek matanya, merasa dia salah lihat tapi enggak, apa yang dilihatnya memang benar itu photo Mimy Armona Setyawan sahabatnya dulu yang tak mungkin dapat dia lupakan, di ujung kanan ada Ayahnya yang juga suami Bundanya sedangkan di ujung kiri Mama Rei, tapi siapa anak laki-laki yang ada di samping Mimy ? Ketika dia masih mengamati dengan rasa penasaran Tante Tiara datang dan menegurnya.
“Ada apa Rei ? itu photo keluarga tante dulu waktu kami masih utuh, laki-laki itu Papa Micky sedangkan gadis itu saudara kembar Micky. Kami bercerai waktu Micky masih kecil dan sekarang dia sudah menikah lagi dengan wanita lain.
“Jadi ini be. . .benar tante ?” air mata Rei menitik.
“Iya Rei memangnya kenapa ? kenapa kamu menangis ?”
“Laki-laki itu adalah Bajingan yang sudah menghancurkan keluarga gue ! dan menyebabkan Ayah gue meninggal !”
Rei mengambil tasnya dan berlari keluar,
Tante Tiara sudah mencoba untuk mencegah tapi Rei tetap pergi. Micky mendengar
semuanya dan langsung keluar, mengejar Rei. Rei terus berlari tanpa memandang
ke belakang, pikirannya begitu kacau, dia belum bisa menerima semua kenyataan
itu, dia mencintai tapi mendendam.
“Rei tunggu ! kita bisa membicarakan semua dengan kepala dingin !”
“Enggak perlu ! lebih baik lo pulang gue enggak mau kenal sama lo ! gue benci sama lo !”
Dia terus berlari menyeberangi jalan, dan Micky masih tetap mengejar di belakangnya.
Tapi tiba-tiba. . .
Braaakkk. . .
Bunyi benturan keras di belakang, seorang cowok terlempar jauh karena tertabrak mobil. Darah berceceran.
Rei membalikkan badan, berharap yang terjadi enggak seperti yang dia pikirkan, tapi. . .
Micky !!!
Rei mendekati sosok yang terhempas itu, dia menjerit menangis dan seakan enggak percaya, dia letakkan kepala Micky di pangkuannya.
“Micky bangun, jangan lakuin ini sama gue, kenapa lo harus ngejar gue Micky lo itu bodoh ! Tega-teganya lo kayak gini Micky.”
Dengan terbata-bata Micky mencoba bicara.
“Rei a. . .aku sayang sama kamu, kalau aku sudah enggak ada tolong ka. . .kamu jaga Mamaku dan maafin kesalahan Papa dan adik ku.”
“Enggak Mick lo enggak boleh mgomong gitu, lo pasti kuat gue yakin itu, gue bakal mati tanpa lo !”
Kepala Micky melemas jatuh ke bawah dia enggak sadarkan diri.
“Micky !!!!!”
Tubuh Micky di bawa ramai-ramai oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian menuju Rumah sakit terdekat. Rei merasa itu semua bagaikan mimpi dia terus menangis menatap Micky dengan tubuh yang lemah terus mengikuti Micky.
______________________________________________________________________________________
Tante Tiara yang mendengar kejadian itu langsung menuju ke Rumah sakit setelah memberi tahu Papa Micky, mereka memang sudah bercerai tapi untuk masalah anak selalu terjalin komunikasi diantara mereka.
Sesampainya di Rumah sakit Tante Tiara mendekati Rei yang sedang berjongkok di depan ruang ICU.
“Rei ?”
“Maaf tante ini semua gara-gara gue.”
“Sudahlah Rei jangan menyalahkan diri sendiri, semua yang terjadi adalah kehendak yang kuasa.”
“Hiks. . .hiks tante gue enggak mau kehilangan Micky.” Di peluknya tante Tiara.
“Dia pasti akan bertahan demi kamu Rei. Tante yakin itu. Lebih baik kamu terus mendo’akanya.”
“Iya tante terimakasih, maafkan gue tentang masalah tadi karena enggak seharusnya gue terbawa emosi dan mengikut sertakan tante sama Micky dalam masalah gue sedangkan kalian enggak tahu apa-apa.”
“Iya tante sudah maafin kamu kok Rei. Tante mengerti perasaan kamu.”
Dokter keluar,
Bagaimana keadaan Micky dok ? Rei dan tante Tiara bertanya serempak.
“Apa anda keluarga pasien ?”
“Iya benar dok.”
“Kami sudah berusaha semaximal mungkin, tapi kami minta maaf karena. . .”
“Karena apa dok ?” Rei bertanya sambil menangis hingga suaranya serak.
“Karena kemungkinan untuk bisa bertahan hidup bagi pasian sangat sedikit dan sekarang dia masih koma.”
Deg ! Jantung Rei seakan berhenti mendengar itu semua, setengah kesadarannya hampir hilang. Kalau enggak ada Seorang laki-laki yang menopangnya secara tiba-tiba dari belakang mungkin dia sudah jatuh.
Rei membalikkan badan dan sontak saja wajahnya memerah menahan amarah.
“Lo ? lo ngapain disini ? lo mau menertawakan gue lagi setelah gue sempat kehilangan Ayah gue gara-gara lo dan sekarang gue akan kehilangan seseorang yang gue sayangi gara-gara lo lagi !”
“Rei kamu enggak boleh begitu.” Kata tante Tiara.
“Dia pantas di gituin tante. Lebih baik lo pergi dari sini dan bawa dua wanita yang ada di belakang lo itu !”
Ternyata laki-laki itu Papa Micky yang juga Ayah tiri Rei dia datang bersama dua orang wanita, tentunya Bunda Rei dan Mimy.
“Maafkan om dan Bunda Rei, Bunda enggak bermaksud menyakiti kamu. Tapi kalau memang sebenci itu kamu dengan Bunda, baiklah kami akan pergi.”
Bunda Rei menangis, sepertinya dia benar-benar menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada anaknya itu. Dia pun beranjak untuk pergi, tapi tiba-tiba dokter menyela. . .
“Tunggu dulu, tadi sebelum akhirnya koma Micky sempat berpesan kepada saya untuk menyampaikan ini pada Rei.”
“Apa itu dok ?” Tanya Rei.
“Dia bilang permintaan terakhirnya pada Rei adalah agar Rei memaafkan Papa Micky dan Bundanya, dia juga sempat bilang kalau sejujurnya Bunda Rei sangat baik, naluri ke ibuannya sangat tinggi. Dia bercerai Karena suatu alasan juga yaitu dia kurang perhatian dari Ayah Rei yang setiap hari di sibukkan dengan pekeerjaannya tanpa memikirkan kebutuhan rohaninya.”
“Lalu kenapa dia enggak ada, waktu gue kehilangan Ayah dan akan pergi ?”
“Dia terlambat mengetahui kepergian Ayahmu Rei, waktu dia dengar dia langsung mencarimu tapi enggak juga ketemu karena kamu memang sudah pindah, bahkan dia sempat bertengkar dan hampir bercerai dengan Papa Micky gara-gara nekat ingin menyusul kamu ke kota Jambi Rei.” Mama Micky menyela.
“Benarkah semua yang gue dengar itu ?”
“Iya Rei Bunda sangat menyayangimu, Bunda ingin mencoba menjelaskan semua ini padamu tapi kamu selalu menolak kehadiran Bunda.”
“Bunda !!!” Mereka berdua berpelukan dalam keheningan sesaat kemudian Rei melepaskan pelukannya.
“Bunda, Om, Mimy maafin gue sudah salah paham sama kalian, gue sayang kalian.”
“Om dan Mimy yang seharunya minta maaf Rei, tapi sudahlah lupakan semua itu om ingin kita bersatu menjadi sebuah keluarga yang bahagia.”
“Iya Rei.” Mimy menyahut.
Semua tersenyum bahagia tapi kemudian Rei kembali menangis.
“ Micky. . .” rintihnya lirih.
______________________________________________________________________________________
Setelah dipersilahkan oleh dokter Rei pun memasuki ruang ICU. Dia mendekati Micky yang tak sadarkan diri, baru kali ini Rei menangis melihat ketenangan diwajah Micky, dirabanya setiap bagian-bagian wajah Micky, bibirnya, matanya, pipinya, ia takut enggak bisa menyentuhnya lagi. Dipegangnya tangan Micky dengan erat, air matanya membasahi tangan Micky.
“Heh cowok lemah bangun dong, biasanya lo akan marah kalau gue ngejek lo, tapi sekarang apa ? lo cuma diam enggak bisa apa-apa !”
“Mana Micky yang jahil ? Hiks. . .hiks. . .” dia terisak hingga dadanya sakit, enggak mampu menahan luapan emosinya.
“Kalau memang lo akan pergi untuk ninggalin gue, pasti lo sudah tenang karena gue sudah memenuhi permintaan terakhir lo, lo pasti tahu gue sudah menemukan kebahagiaan gue.”
“Tapi asal lo tahu Mick, kebahagiaan itu enggak akan lengkap tanpa lo, lo ngerti enggak sih ! lo denger enggak sih !”
“Micky. . . lo enggak boleh pergi dengan cara seperti ini, lo sudah buat gue jatuh cinta sama lo, buat gue sayang sama lo tapi lo juga bakal buat gue kehilangan lo ! lo tega Mick!”
Rei terdiam cukup lama dalam keheningan, berusaha menahan air matanya tapi tetap menetes, dadanya semakin sesak.
“Lo bilang gue harus terus di samping lo, sekarang gue ada di samping lo Mick tapi kenapa lo enggak bangun-bangun juga ? lo senang ya kalau lihat gue nangis kayak gini ?”
Rei mendekatkan bibirnya ke telinga Micky dam membisikkan kata-kata.
“Micky I love you, gue mau lo jawab seperti biasanya, bertahanlah kalau lo memang cinta sama gue.”
Dikecupnya kening Micky dengan linangan air matanya dan diciumnya tangan Micky cukup lama. Kemudian dia berdiri akan pergi karena Micky enggak juga bangun, tapi baru saja dia membalikkan badan tangannya telah dipegang oleh Micky. Dia sangat kaget dan melihat kearah Micky yang sedang tersenyum manja.
“I love you too, itukan jawaban yang kamu butuhkan ?”
“Micky ! L elo. Elo bohongin gue !”
Rei langsung menghambur kepelukan Micky.
“Tega banget sih lo Mick, gue benar-benar takut bakal kehilangan lo !”
“Tapi kan aku masih disini Rei, untuk kamu. Aku kan sudah janji bakal jaga kamu dan enggak akan tinggalin kamu.”
“Trus apa maksud lo pura-pura koma, dan dokter itu. . .”
Dengan senyum nakalnya dia berkata.
“Dokter itu memang aku yang suruh dan aku enggak punya maksud apa-apa ngelakuin ini Rei, aku cuma mau buat kamu bahagia, mau kamu memaafkan Bunda kamu, hanya itu sayang :*”
“Lo memang nakal Mick, gue benci sama lo!”
“Benci itu benar-benar cinta lo sayang.”
“Enggak !’
“Iya sayang.”
“Rei tunggu ! kita bisa membicarakan semua dengan kepala dingin !”
“Enggak perlu ! lebih baik lo pulang gue enggak mau kenal sama lo ! gue benci sama lo !”
Dia terus berlari menyeberangi jalan, dan Micky masih tetap mengejar di belakangnya.
Tapi tiba-tiba. . .
Braaakkk. . .
Bunyi benturan keras di belakang, seorang cowok terlempar jauh karena tertabrak mobil. Darah berceceran.
Rei membalikkan badan, berharap yang terjadi enggak seperti yang dia pikirkan, tapi. . .
Micky !!!
Rei mendekati sosok yang terhempas itu, dia menjerit menangis dan seakan enggak percaya, dia letakkan kepala Micky di pangkuannya.
“Micky bangun, jangan lakuin ini sama gue, kenapa lo harus ngejar gue Micky lo itu bodoh ! Tega-teganya lo kayak gini Micky.”
Dengan terbata-bata Micky mencoba bicara.
“Rei a. . .aku sayang sama kamu, kalau aku sudah enggak ada tolong ka. . .kamu jaga Mamaku dan maafin kesalahan Papa dan adik ku.”
“Enggak Mick lo enggak boleh mgomong gitu, lo pasti kuat gue yakin itu, gue bakal mati tanpa lo !”
Kepala Micky melemas jatuh ke bawah dia enggak sadarkan diri.
“Micky !!!!!”
Tubuh Micky di bawa ramai-ramai oleh orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian menuju Rumah sakit terdekat. Rei merasa itu semua bagaikan mimpi dia terus menangis menatap Micky dengan tubuh yang lemah terus mengikuti Micky.
______________________________________________________________________________________
Tante Tiara yang mendengar kejadian itu langsung menuju ke Rumah sakit setelah memberi tahu Papa Micky, mereka memang sudah bercerai tapi untuk masalah anak selalu terjalin komunikasi diantara mereka.
Sesampainya di Rumah sakit Tante Tiara mendekati Rei yang sedang berjongkok di depan ruang ICU.
“Rei ?”
“Maaf tante ini semua gara-gara gue.”
“Sudahlah Rei jangan menyalahkan diri sendiri, semua yang terjadi adalah kehendak yang kuasa.”
“Hiks. . .hiks tante gue enggak mau kehilangan Micky.” Di peluknya tante Tiara.
“Dia pasti akan bertahan demi kamu Rei. Tante yakin itu. Lebih baik kamu terus mendo’akanya.”
“Iya tante terimakasih, maafkan gue tentang masalah tadi karena enggak seharusnya gue terbawa emosi dan mengikut sertakan tante sama Micky dalam masalah gue sedangkan kalian enggak tahu apa-apa.”
“Iya tante sudah maafin kamu kok Rei. Tante mengerti perasaan kamu.”
Dokter keluar,
Bagaimana keadaan Micky dok ? Rei dan tante Tiara bertanya serempak.
“Apa anda keluarga pasien ?”
“Iya benar dok.”
“Kami sudah berusaha semaximal mungkin, tapi kami minta maaf karena. . .”
“Karena apa dok ?” Rei bertanya sambil menangis hingga suaranya serak.
“Karena kemungkinan untuk bisa bertahan hidup bagi pasian sangat sedikit dan sekarang dia masih koma.”
Deg ! Jantung Rei seakan berhenti mendengar itu semua, setengah kesadarannya hampir hilang. Kalau enggak ada Seorang laki-laki yang menopangnya secara tiba-tiba dari belakang mungkin dia sudah jatuh.
Rei membalikkan badan dan sontak saja wajahnya memerah menahan amarah.
“Lo ? lo ngapain disini ? lo mau menertawakan gue lagi setelah gue sempat kehilangan Ayah gue gara-gara lo dan sekarang gue akan kehilangan seseorang yang gue sayangi gara-gara lo lagi !”
“Rei kamu enggak boleh begitu.” Kata tante Tiara.
“Dia pantas di gituin tante. Lebih baik lo pergi dari sini dan bawa dua wanita yang ada di belakang lo itu !”
Ternyata laki-laki itu Papa Micky yang juga Ayah tiri Rei dia datang bersama dua orang wanita, tentunya Bunda Rei dan Mimy.
“Maafkan om dan Bunda Rei, Bunda enggak bermaksud menyakiti kamu. Tapi kalau memang sebenci itu kamu dengan Bunda, baiklah kami akan pergi.”
Bunda Rei menangis, sepertinya dia benar-benar menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada anaknya itu. Dia pun beranjak untuk pergi, tapi tiba-tiba dokter menyela. . .
“Tunggu dulu, tadi sebelum akhirnya koma Micky sempat berpesan kepada saya untuk menyampaikan ini pada Rei.”
“Apa itu dok ?” Tanya Rei.
“Dia bilang permintaan terakhirnya pada Rei adalah agar Rei memaafkan Papa Micky dan Bundanya, dia juga sempat bilang kalau sejujurnya Bunda Rei sangat baik, naluri ke ibuannya sangat tinggi. Dia bercerai Karena suatu alasan juga yaitu dia kurang perhatian dari Ayah Rei yang setiap hari di sibukkan dengan pekeerjaannya tanpa memikirkan kebutuhan rohaninya.”
“Lalu kenapa dia enggak ada, waktu gue kehilangan Ayah dan akan pergi ?”
“Dia terlambat mengetahui kepergian Ayahmu Rei, waktu dia dengar dia langsung mencarimu tapi enggak juga ketemu karena kamu memang sudah pindah, bahkan dia sempat bertengkar dan hampir bercerai dengan Papa Micky gara-gara nekat ingin menyusul kamu ke kota Jambi Rei.” Mama Micky menyela.
“Benarkah semua yang gue dengar itu ?”
“Iya Rei Bunda sangat menyayangimu, Bunda ingin mencoba menjelaskan semua ini padamu tapi kamu selalu menolak kehadiran Bunda.”
“Bunda !!!” Mereka berdua berpelukan dalam keheningan sesaat kemudian Rei melepaskan pelukannya.
“Bunda, Om, Mimy maafin gue sudah salah paham sama kalian, gue sayang kalian.”
“Om dan Mimy yang seharunya minta maaf Rei, tapi sudahlah lupakan semua itu om ingin kita bersatu menjadi sebuah keluarga yang bahagia.”
“Iya Rei.” Mimy menyahut.
Semua tersenyum bahagia tapi kemudian Rei kembali menangis.
“ Micky. . .” rintihnya lirih.
______________________________________________________________________________________
Setelah dipersilahkan oleh dokter Rei pun memasuki ruang ICU. Dia mendekati Micky yang tak sadarkan diri, baru kali ini Rei menangis melihat ketenangan diwajah Micky, dirabanya setiap bagian-bagian wajah Micky, bibirnya, matanya, pipinya, ia takut enggak bisa menyentuhnya lagi. Dipegangnya tangan Micky dengan erat, air matanya membasahi tangan Micky.
“Heh cowok lemah bangun dong, biasanya lo akan marah kalau gue ngejek lo, tapi sekarang apa ? lo cuma diam enggak bisa apa-apa !”
“Mana Micky yang jahil ? Hiks. . .hiks. . .” dia terisak hingga dadanya sakit, enggak mampu menahan luapan emosinya.
“Kalau memang lo akan pergi untuk ninggalin gue, pasti lo sudah tenang karena gue sudah memenuhi permintaan terakhir lo, lo pasti tahu gue sudah menemukan kebahagiaan gue.”
“Tapi asal lo tahu Mick, kebahagiaan itu enggak akan lengkap tanpa lo, lo ngerti enggak sih ! lo denger enggak sih !”
“Micky. . . lo enggak boleh pergi dengan cara seperti ini, lo sudah buat gue jatuh cinta sama lo, buat gue sayang sama lo tapi lo juga bakal buat gue kehilangan lo ! lo tega Mick!”
Rei terdiam cukup lama dalam keheningan, berusaha menahan air matanya tapi tetap menetes, dadanya semakin sesak.
“Lo bilang gue harus terus di samping lo, sekarang gue ada di samping lo Mick tapi kenapa lo enggak bangun-bangun juga ? lo senang ya kalau lihat gue nangis kayak gini ?”
Rei mendekatkan bibirnya ke telinga Micky dam membisikkan kata-kata.
“Micky I love you, gue mau lo jawab seperti biasanya, bertahanlah kalau lo memang cinta sama gue.”
Dikecupnya kening Micky dengan linangan air matanya dan diciumnya tangan Micky cukup lama. Kemudian dia berdiri akan pergi karena Micky enggak juga bangun, tapi baru saja dia membalikkan badan tangannya telah dipegang oleh Micky. Dia sangat kaget dan melihat kearah Micky yang sedang tersenyum manja.
“I love you too, itukan jawaban yang kamu butuhkan ?”
“Micky ! L elo. Elo bohongin gue !”
Rei langsung menghambur kepelukan Micky.
“Tega banget sih lo Mick, gue benar-benar takut bakal kehilangan lo !”
“Tapi kan aku masih disini Rei, untuk kamu. Aku kan sudah janji bakal jaga kamu dan enggak akan tinggalin kamu.”
“Trus apa maksud lo pura-pura koma, dan dokter itu. . .”
Dengan senyum nakalnya dia berkata.
“Dokter itu memang aku yang suruh dan aku enggak punya maksud apa-apa ngelakuin ini Rei, aku cuma mau buat kamu bahagia, mau kamu memaafkan Bunda kamu, hanya itu sayang :*”
“Lo memang nakal Mick, gue benci sama lo!”
“Benci itu benar-benar cinta lo sayang.”
“Enggak !’
“Iya sayang.”
“Enggak Mick, gue cubit lo !”
Tante Tiara masuk di ikuti oleh yang lain ketika Rei melemparkan cubitannya ke tangan Rei, mereka sudah tahu sandiwara Micky dari dokter tadi.
“Sepasang kekasih yang sangat serasi, benarkan ?” Tante Tiara mulai menggoda.
Bunda Rei dan yang lain mengiyakan sambil tertawa-tawa. Rei dan Micky melepasakan kedua tangan mereka yang saling berpegangan, wajah mereka tersipu malu. Mereka pun berkumpul menjadi satu, saling tertawa penuh kebahagiaan.
“Rei. . .”
“Iya Mick.”
“Kamu mau kan menikah dengan aku ?”
“Oowww.” Semua terkejut mendengar penyataan Micky yang tiba-tiba itu termasuk Rei.
“Menikah muda ? secepat inikah Mick ? kita masih terlalu muda.”
“Oh, jadi kamu enggak mau menikah dengan aku ?”
“Gue memang cinta sama lo, tapi maaf Mick, gue enggak bisa. . .”
“Jujur aku kecewa sama kamu Rei, ternyata kamu enggak benar-benar serius dengan aku.” Micky memalingkan mukanya dari Rei.
“Tunggu dulu sayang, gue belum selesai ngomong. Maksud gue itu, gue enggak bisa menolak permintaan lo.”
“Benarkah ?”
“Iya. . .”
“Hahaha. . ."Semua menertawakan kedua pasangan itu, pasangan muda yang sangat serasi. Mereka terhanyut dalam kebahagiaan, dalam canda.
Enggak lupa Rei berbagi kebahagiaan itu kepada kakanya, dia menceritakan semua yang telah terjadi dan menyampaikan kabar gembira tentangnya dan Micky. Kakaknya turut berbahagia dan berjanji akan secepatnya menyusul Rei ke Jakarta.
Lengkap sudah kebahagiaan Rei. Memang Tuhan selalu membeeri kejutan-kejutan pada hambanya dan percayalah semua akan indah pada waktunya.
Sekian :*
Tante Tiara masuk di ikuti oleh yang lain ketika Rei melemparkan cubitannya ke tangan Rei, mereka sudah tahu sandiwara Micky dari dokter tadi.
“Sepasang kekasih yang sangat serasi, benarkan ?” Tante Tiara mulai menggoda.
Bunda Rei dan yang lain mengiyakan sambil tertawa-tawa. Rei dan Micky melepasakan kedua tangan mereka yang saling berpegangan, wajah mereka tersipu malu. Mereka pun berkumpul menjadi satu, saling tertawa penuh kebahagiaan.
“Rei. . .”
“Iya Mick.”
“Kamu mau kan menikah dengan aku ?”
“Oowww.” Semua terkejut mendengar penyataan Micky yang tiba-tiba itu termasuk Rei.
“Menikah muda ? secepat inikah Mick ? kita masih terlalu muda.”
“Oh, jadi kamu enggak mau menikah dengan aku ?”
“Gue memang cinta sama lo, tapi maaf Mick, gue enggak bisa. . .”
“Jujur aku kecewa sama kamu Rei, ternyata kamu enggak benar-benar serius dengan aku.” Micky memalingkan mukanya dari Rei.
“Tunggu dulu sayang, gue belum selesai ngomong. Maksud gue itu, gue enggak bisa menolak permintaan lo.”
“Benarkah ?”
“Iya. . .”
“Hahaha. . ."Semua menertawakan kedua pasangan itu, pasangan muda yang sangat serasi. Mereka terhanyut dalam kebahagiaan, dalam canda.
Enggak lupa Rei berbagi kebahagiaan itu kepada kakanya, dia menceritakan semua yang telah terjadi dan menyampaikan kabar gembira tentangnya dan Micky. Kakaknya turut berbahagia dan berjanji akan secepatnya menyusul Rei ke Jakarta.
Lengkap sudah kebahagiaan Rei. Memang Tuhan selalu membeeri kejutan-kejutan pada hambanya dan percayalah semua akan indah pada waktunya.
Sekian :*
Kalo nggak salah tafsir, Reina Dermawan itu adalah si PENULIS.. Iya kan???????
BalasHapusiya apa bukan ya ? :D
Hapusidak tau juga gan.
kreatif c: kapan" buat cerpen tentang kita di sekolah ya... :)
BalasHapusiyekah ? makasi c:
Hapusoke sob mkasi saranya besok kami bikin lah.